• Kamis, 9 Desember 2021

Akibat Telan Korban, Gubernur Larang Kegiatan Aksi Susur Sungai Tanpa Izin BPBD

- Minggu, 17 Oktober 2021 | 18:19 WIB
IMG-20211017-WA0016
IMG-20211017-WA0016

godepok.com, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengunjungi rumah Muhammad Kafka, di Depok. kafka adalah salah satu korban meninggal susur sungai di Ciamis, Jawa Barat.

Dalam musibah tersebut ada 11 anak yang menjadi korban meninggal dunia. Dari 11 korban meninggal itu, tiga diantaranya adalah warga Ciamis. Sedangkan sisanya adalah warga luar Ciamis.

“Kami turut berduka cita yang mendalam atas berpulangnya 11 anak-anak kita di Ciamis. Kami merasakan sangat kehilangan para orangtua. Dari 11 itu hanya tiga warga Ciamis, itu sisanya di luar Ciamis. Nah ada dua yang berpulang dari Depok. Salah satunya ada disini,” kata Kang Emil, Sabtu (16/10).

Gubernur pun memberikan bantuan pribadi kepada keluarga korban sebesar Rp 25 juta. Diharapkan bantuan itu dapat meringankan beban keluarga.

Gubernur juga minta dilakukan evaluasi menyeluruh dan melarang adanya susur sungai di masa depan, terkeculi sudah ada standar operasional prosedur (SOP) yang jelas dari BPBD.

“Oleh karena itu saya minta BPBD menyusun SOP bagaimana kegiatan alam itu bisa diklasanakan tetap mengutamankan keselamatan dan keamanan. Saya minta BPBD bekerjasama dengan pecinta alam profesional agar tidak terulang lagi hal seprti ini,” tegasnya.

Gubernur juga meminta sekolah bertanggungjawab atas musibah tersebut. Kemudian musibah ini dijadikan pelajaran karena kehilangan satu nyawa itu tidak bisa digantikan dengan apapun. Terlebih dalam musibah ini jumlah korban jiwa meninggal cukup banyak.

“Mudah-mudahan Allah memberikan rasa sabar pada keluarga,” ucapnya.

Kang Emil meminta agar kegiatan susur sungai dihentikan karena sudah musim hujan. Karena hal yang berkaitan dengan kegiatan air, susur sungai memiliki resisten tinggi.

Sehingga dia meminta agar kegiatan yang serupa dihentikan sementara. Dia juga mengingatkan agar SOP dipenuhi dan dilibatkan pecinta alam professional.

“Potensintya rawan, karenakan pernah terjadi di Jojga. Oleh karena itu untuk menghindari hal serupa dihentikan dulu, kegiatan jenis itu kmudian dilakukan SOP terhadap kegiatan karena ini kan anak-anak bukan pecinta alam professional, anak-anak kan hanya happy-happy aja. Bukan skil-skil gitu. Tadabur alam baik, tapi urusan nyawa nomor satu," imbuhnya.

Saat ini kasusnya sudah ditangani pihak kepolisian. Proses hukumnya sedang berjalan sesuai hukum yang berlaku.

“Ya saya kirakan ini semua bisa berhasil kalau semua berpartisipasi dengan logika sehat. Kedua, pemerintah juga sedang merasakan sebuah beriat baik tentang turunnya covid jangan euphoria, jangan semua kgiatan langsung on lagi. Karena kan covidnya masih ada,” tandasnya.(AH)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Realme Bakal Segera Perkenalkan Produk Terbarunya

Jumat, 29 Oktober 2021 | 14:50 WIB

Polisi Buru Pelaku Pembunuhan di Jalan Nangka

Rabu, 27 Oktober 2021 | 09:56 WIB

Liga Italia, AC Milan Menang Tipis Atas Torino

Rabu, 27 Oktober 2021 | 08:24 WIB

Mengungkap Mitos Mata Kedutan Sebelah Kiri

Rabu, 27 Oktober 2021 | 07:37 WIB

Nahas, Genap 17 Tahun Seorang Remaja Jadi Korban Begal

Selasa, 26 Oktober 2021 | 15:01 WIB

Mahasiswa Demo di Margonda

Senin, 25 Oktober 2021 | 16:40 WIB
X