• Rabu, 26 Januari 2022

Dugaan Kekerasan Seksual di Mojokerto Berakhir Tragis, Komnas Perempuan: Bom Waktu Keterbatasan Layanan

- Selasa, 7 Desember 2021 | 16:00 WIB
Potret Ilustrasi kekerasan Seksual (Tim/Ilustrasi/Istimewa)
Potret Ilustrasi kekerasan Seksual (Tim/Ilustrasi/Istimewa)


godepok.com, Menanggapi masalah kasus dugaan kekerasan seksual yang mengakibatkan korban nekat melakukan aksi bunuh diri di Mojokerto, Jawa Timurdan sempat viral di media sosial, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyampaikan duka yang mendalam atas meninggalnya NWR, korban kekerasan seksual di Mojokerto yang mengakhiri hidupnya. Kasus ini sungguh memilukan dan menjadi kesedihan bagi keluarga korban dan kita semua.

"Kisah tragis NWR harus menjadi pelajaran bagi kita. Kasus ini merupakan alarm keras pada kondisi darurat kekerasan seksual di Indonesia yang membutuhkan tanggapan serius dari aparat penegak hukum, pemerintah, legislatif dan masyarakat," kata Komnas Perempuan seeprti dikutip dari keterangan tertulis Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, tanggal (6/12/2021)

Lebih lanjut dalam keterangan tertulis tersebut menyampaikan, Daya penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan sangat rapuh di tengah kondisi layanan yang sangat terbatas kapasitasnya menghadapi lonjakan pelaporan kekerasan seksual yang semakin tinggi dengan jenis kasus yang semakin kompleks.

Baca Juga: Blacklist International Maju ke Upper Bracket M3 Mobile Legends World Championship

Untuk itu, Komnas Perempuan meminta menyegerakan pengesahan RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual yang meneguhkan komitmen negara dalam pelaksanaan tanggung jawab pemulihan korban, selain memutus impunitas, adalah langkah mendesak. Mengembangkan ekosistem dukungan bagi korban juga tidak lagi dapat ditunda, dari keluarga hingga bagi lembaga-lembaga yang menyelenggarakan layanan, mulai dari desa hingga nasional.

"NWR adalah korban kekerasan yang bertumpuk dan berulang-ulang dalam durasi hampir dua tahun sejak 2019. Ia terjebak dalam siklus kekerasan di dalam pacaran yang menyebabkannya terpapar pada tindak eksploitasi seksual dan pemaksaan aborsi," tuturnya.

"Saat menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan, pacar NWR yang berprofesi sebagai anggota kepolisian memaksanya untuk menggugurkan kehamilan dengan berbagai cara, seperti memaksa meminum pil KB, obat-obatan dan jamu-jamuan, bahkan pemaksaan hubungan seksual karena beranggapan akan dapat menggugurkan janin," sambung komnas perempuan.

lebih lanjut Komnas perempuan mengatakan, Peristiwa pemaksaan aborsi bahkan terjadi hingga dua kali. Pada kali kedua bahkan korban sampai mengalami pendarahan, trombosit berkurang dan jatuh sakit.

Baca Juga: Divonis 4 tahun Penjara, Aktor Hoaks Babi Ngepet di Depok Ikhlas

Dalam keterangan korban, pemaksaan aborsi oleh pelaku juga didukung oleh keluarga pelaku yang awalnya menghalangi perkawinan pelaku dengan korban dengan alasan masih ada kakak perempuan pelaku yang belum menikah dan kemudian bahkan menuduh korban sengaja menjebak pelaku agar dinikahi.

Halaman:

Editor: Erwin GD

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tender Formula E Gagal, Pemprov DKI Diminta Transparan

Selasa, 25 Januari 2022 | 20:00 WIB

X-TEN Klaim Sebagai Oli yang Tahan Lama

Selasa, 25 Januari 2022 | 18:00 WIB

Laporan Kasus Edy Mulyadi Ditangani Bareskrim

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:00 WIB

Prakiraan Cuaca Depok Hari Ini Selasa 25 Januari 2022

Selasa, 25 Januari 2022 | 08:00 WIB

Aksi Demo Kejaksaan, Massa Bakar Ban Bekas

Senin, 24 Januari 2022 | 20:00 WIB

PTM 100 Persen di Depok Mulai Diterapkan Hari Ini

Senin, 24 Januari 2022 | 09:00 WIB

Prakiraan Cuaca Depok Hari Ini Senin 24 Januari 2022

Senin, 24 Januari 2022 | 08:00 WIB

Era Perbankan Digital Menuju Kemakmuran Ekonomi RI

Minggu, 23 Januari 2022 | 19:00 WIB

NFT, Sebuah Batu Pijakan Masa Depan untuk Para Seniman

Minggu, 23 Januari 2022 | 17:00 WIB
X